BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Saturday, December 12, 2009

Abu 'Ubaidah Al-Jarrah - Pemegang Amanah Ummah

Beliau adalah seorang sahabat yang agung; Abu Ubaidah ‘Amir bin Abdullah bin Al-Jarrah –semoga Allah meridloinya- salah seorang yang diberikan kabar gembira sebagai penghuni surga, dan seorang yang paling dicintai oleh Rasulullah saw, Aisyah pernah ditanya : sahabat manakah yang paling dicintai oleh Rasulullah saw, beliau menjawab : Abu Bakar. Kemudian siapa lagi ? Umar. Kemudian siapa lagi ? Abu Ubaidah bin Al-Jarrah (At-Turmudzi dan Ibnu Majah).


Drpd Sa'id bin Zaid (antara golongan 10) yang berkata, bahawa Rasulullah bersabda "10 orang di syurga iaitu 1-Abu Bakar di syurga, 2-Umar di syurga 3-Uthman di syurga, 4-Ali 5-azZubair di syurga 6-Talhah di syurga 7-Abdurrahman bin Auf di syurga 8-Abu Ubaidah di syurga 9-Saad bin Abi Waqas di syurga", kemudian beliau (Said bin Zaid) diam dari menyebut yang kesepuluh, dan apabila ditanya dia memberitahu bahawa dia (Said bin Zaid termasuk didalam 10)- Riwayat atTirmizi

Dan Rasulullah saw menjuluki beliau dengan “Aminul ummah” (kepercayaan umat); dimana beliau pernah bersabda :“Setiap umat mempunyai orang yang dipercaya, sedangkan kepercayaan umat islam ada pada Abu Ubaidah bin Al-Jarrah”.

Saat utusan Najran yang berasal dari Yaman datang menghadap Rasulullah saw, mereka meminta diutus orang yang terpercaya untuk mengajarkan kepada penduduk Najran, lalu Rasulullah saw bersabda : “Saya akan utus kepada kalian seorang yang amin (terpercaya) dan benar-benar dipercaya”. maka setiap sahabat yang hadir berharap seorang yang dimaksud adalah dirinya, akhirnya Rasulullah saw memilih Abu Ubaidah, dan bersabda : “Bangunlah engkau wahai Abu Ubaidah”. (Al-Bukhari)

Abu Ubaidah pernah ikut hijrah ka Habsyah kemudian ke Madinah, dan di Madinah Rasulullah saw mempersaudarakannya dengan Sa’ad bin Mu’adz- semoga Allah meridhai keduanya-“.

Abu Ubaidah juga tidak pernah tidak ikut berperang bersama Rasulullah saw, beliau sangat terkenal dengan kepahlawanan dan pengorbanan, saat perang Badr berkecamuk Abu Ubaidah melihat bapaknya berada ditengah kaum musyrikin maka diapun menghindar darinya, namun bapaknya berusaha ingin membunuh anaknya, maka tidak ada jalan lain untuk menghindar baginya kecuali melawannya, dan bertemulah dua pedang yang saling berbenturan dan pada akhirnya orang tua yang musyrik mati ditangan anaknya yang lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya daripada orang tuanya hingga turunlah ayat : “Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, aanak-anak, atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka kedalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridlo terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung”. (QS. Al-Mujadilah : 22)

Saat terjadinya perang uhud, Rasulullah saw tercedera dan beliau segera mendapatkan Rasulullah untuk melindunginya dan beliau mencabut dua senjata yang bersarang di dalam topeng penutup kepala yang terbuat dari besi yang memiliki dua sisi di wajah Nabi saw akibat serangan yang menimpanya hingga dua gigi seri patah, namun demikian lubang giginya menjadi baik. (Al-Hakim dan Ibnu sa’ad)

Abu Ubaidah memiliki pengalaman yang sangat cerdas dalam strategi perang dan pemberani, karenanya Rasulullah saw mengangkatnya sebagai komandan dalam berbagai perang gerilya. Pada suatu hari Rasulullah saw mengutusnya sebagai komandan dalam perang gerilya yang disebut saiful bahr dengan pasukan berjumlah 300 orang, namun perbekalan mereka sangat minim, hingga jatah makan mereka hanyalah satu buah kurma dalam sehari, kemudian merekapun berangkat ke laut, dan mereka mendapatkan ombak yang telah menghempaskan hiu yang sangat besar yang mana mereka menyebutnya dangan anbar (hewan laut dari golongan mamalia), maka Abu Ubaidah berkata : “Ini adalah mayit (bangkai)”. Namun kemudian berkata lagi : “bukan, kita adalah utusan dari Rasulullah saw dan berada di jalan Allah, makanlah, maka merekapun memakan daging darinya selama 18 hari. (Muttafaqun alaih)

Umar bin Khattab dalam suatu majlis pernah berkata : “Sebutkanlah cita-cita (obsesi) kalian” salah seorang diantara mereka berkata : “saya bercita-cita memiliki harta yang penuh banyak dirumah ini, sehingga saya bisa menginfakkannya di jalan Allah”. Umar berkata : “sebutkanlah cita-cita (obsesi) kalian”. Salah seorang yang lain berkata : “saya menginginkan se isi ruangan ini menjadi emas sehingga aku bisa menginfakkannya di jalan Allah. Lalu Umar berkata : “Tapi saya bercita-cita orang yang berkumpul diruangan ini menjadi orang seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Muadz bin Jabal dan Hudzaifah bin Al-Yaman, sehingga aku bisa memanfaatkan mereka dalam mentaati Allah SWT”. (Al-Bukhari)

Umar sangat mengetahui kemampuan Abu Ubaidah, sehingga beliau memasukkannya sebagai salah seorang yang dicalonkan menjadi khalifah menjelang akhir hayatnya.

Abu Ubaidah –semoga Allah meredhainya- seorang hamba yang tekun beribadah, kehidupannya dipenuhi dengan sikap qana’ah dan zuhud, suatu kerika Umar masuk ke rumahnya, sedangkan saat itu beliau menjabat sebagai Amir (gubernur) di Syam, namun beliau tidak dapat melihat sesuatu apapun di rumahnya kecuali pedang, tameng dan kendaraanya, Umar lalu berkata : sekiranya engkau mau mengambil harta (sesuatu)?, Abu Ubaid berkata : “Wahai amirul mu’minin, sesungguhnya dengan ini saja sudah cukup bagi kami”. (Abdul Razad dan Abu Nu’aim).

Umar pernah mengirim melalui pembantunya uang sebanyak 400 Dinar, beliau berkata : “Pergilah engkau kepada Abu Ubaidah bin Al-Jarrah kemudian tunggulah dalam sejam apa yang diperbuat saat itu”, lalu pembantu itupun berangkat menuju Abu baidah, dan berkata kepadanya; Amirul mu’minin mengirimkan salam untukmu dan pergunakanlah uang ini untuk memenuhi kebutuhanmu. Lalu Abu Ubaidah berkata : semoga Allah menjalin silaturahimnya dan merahmatinya, kemudian berkata lagi : “kemarilah wahai pembantu, pergilah dengan uang 7 dinar ini kepada si Fulan, 5 dinar untuk si Fulan, 5 lagi untuk si Fulan hingga habis”. (Ibnu Sa’ad). Beliau berkata : “Ketahuilah, betapa banyak baju yang putih ternodai karena agamanya, dan betapa banyak orang yang bangga dengan kemuliaan dirinya namun sebenarnya hina ! bersegeralah menghapus keburukan yang lampau dengan kebaikan yang baru (Abu nu’aim dan Ibnu Abdul Bar).

Di dalam Perang Yarmuk ketika Khalid bin Walid sedang memimpin tentera Islam, tiba-tiba amirul mukminin Umar memaklumkan keputusannya untuk melantik Abu Ubaidah Al-Jarrah r.a sbg pengganti Khalid , maka sebaik sahaja diterimanya berita itu dari utusan Khalifah, dimintanya orang itu merahsiakan berita tersebut kepada orang ramai. Sementara Abu Ubaidah sendiri mendiamkannya dengan suatu niat dan tujuan baik seperti lazimnya dimiliki seorang zuhud, arif bijaksana lagi terpecaya, menunggu selesainya panglima Khalid itu dalam merebut kemenangan besar. Setelah tercapai kejayaan barulah ia berjumpa Khalid dgn segala hormat dan ta’zimnya untuk menyerahkan surat dr Amirul Mukminin. Ketika Khalid bertanya kepadanya, “Semoga Allah member rahmat keatas Tuan, wahai Abu Ubaidah! Apa sebabnya Tuan tidak menyampaikan kepadaku diwaktu datangnya surat itu?” Maka jawabnya “saya tidak ingin mematahkan hujunug tombak Tuan dan bukan kekuasaan dunia yang kita tuju dan bukan pula untuk dunia kita beramal! Kita semua bersaudara kerana Allah” demikianlah Abu Ubaidah telah menjadi panglima besar di Syria. Walaupun beliau menjadi gabenor di Syria, namun kecintaannya kepada jihad dan syahid amatlah tinggi dibandingkan dgn tugas sebagai gabenor.

Pada tahun 18 Hijriyah, Umar mengirim bala tentara ke Jordania yang dipimpin oleh Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, kemudian tentara tersebut tinggal di ‘Amwas di Jordan hingga terjangkit penyakit kusta saat bala tentara tinggal disana, ketika Umar mendengar hal demikian beliau menulis surat kepada Abu Ubaidah yang isinya ; sungguh saya memiliki sesuatu yang sangat penting dan saya membutuhkanmu, maka segeralah menghadap saya. Setelah Abu Ubaidah membaca surat itu, beliau menyadari bahwa yang diinginkan dari Umar menyelamatkan nyawanya dari penyakit kusta tersebut, maka baliau mengingatkan Umar dengan sabda Rasulullah saw : “Penyakit kusta merupakan bagian dari syahadah bagi kaum muslimn”. (Muttafaqun ‘alaih). Lalu beliau menulis surat balasan dan berkata di dalamnya, sesungguhnya saya sudah mengetahui kebutuhanmu, maka saya telah mencari solusi dari kehendakmu itu, sesungguhnya saya seorang prajurit dari pasukan kaum muslimin, saya tidak sudi berpisah dengan mereka. Maka ketika Umar membaca surat beliau langsung menangis, dan dikatakan kepadanya : apakah Abu Ubaidah telah meninggal ?! beliau berkata : “tidak, tapi seakan-akan dia sudah meninggal. (Al-Hakim)

Kemudian Amirul mu’minin kembali menulis surat untuknya dan memerintahkannya untuk pergi meninggalkan kota ‘Amwas ke tempat yang disebut Al-Jabiyah hingga semua pasukan tidak meninggal karenanya, lalu Abu Ubaidahpun mengikuti perintah Amirul mu’minin, namun beliau tetap terserang penyakit kusta, kemudian beliau mewasiatkan kepada Mu’adz bin Jabal untuk memimpin pasukan, dan setelah itu beliau wafat sedang umurnya 58 tahun, beliau disholatkan oleh Mu’adz bin Jabal, dan dikebumikan di desa Baisan di Syam. Abu Ubaidah meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw sebanyak 14 hadis


Our Winter Story begins...

Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamualaikum sisters~
Our first winter gathering in Czech! See u there inshaAllah (^_^) V
Poland-Czech-Galway



"....Brgsiapa menempuh perjalanan utk menuntut ilmu, maka Allah akn memudahkan baginya jalan ke syurga..." - Muslim

Wednesday, December 9, 2009

Hadirkan Allah di hari-harimu?

Salin dan tampal dari blog seseorang =D


Semoga bermanfaat insyaAllah

Bismillahirrahmanirahim.. Dengan nama ALLAH yang maha pemurah dan maha mengasihani

"dan kami tidak mengutus rasul-rasul sebelum mu (Muhamaad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu sebagai cobaan bagi sebahagian yang lain . Mahukan kami bersabar?? Dan Tuhanmu maha melihat''

" dan orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan kami (diakhirat) berkata, ''Mengapa bukan para malaikat yang diturunkan kepada kita atau (mengapa) kita (tidak) melihat tuhan kita?'' Sungguh menereka telah menyombongkan diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan kezdaliman) ''

'' Ingatlah pada hari (ketika) mereka melihat para malaikat, pada hari itu tidak ada khabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata, "Hijram mahjura", "

'' Dan kami akan memperlihatkan segala amal (amal baik yang mereka kerjakan, namun amal itu tidak dibalas kerena mereka tidak beriman) yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan "

" Penghuni-penghuni syurga pada hari itu paling paling baik tempatnya dan paling indah tempat istiheratnya "

[Al Furqan, 25 : 20-24]

Kenapa tajuk entry ni ihsan dan saya sertakan ayat-ayat di atas? Sebab waktu tadabbur ayat tu tadi itulah perasaan saya. Ihsan yang terdetik di hati ini.
Astaghfirullahal Azdim!

Ihsan itu, seperti kamu melihat Allah ataupun merasa yang Allah itu sentiasa memerhatikan kamu.

Senangkan nak tulis tu.. Pasti semua di antara yang membaca entry ini dah ariff benar dengan maksud ihsan. kan-kan-kan?

Alhamdulillah! At least kita tahu maksudnya. Tapi bagaimana dengan perlaksanaannya??
Sungguh tak sesenang menghafal maksudnya.

Tadi time baca ayat-ayat tu. terdetik di hati, "Ya Allah sejauh mana aku yakin dengan pertemuan dengan MU, sejauh mana aku yakin yang engkau sedang memerhatikanku"

Mungkin pada saat saya menulis entry ini, insya ALLAH terasa ALLAH itu dekat. Tapi bagai mana pula selepas ini. di saat berada di kelas, di saat bergelak tawa dengan sahabat-sahabat, di saat menikmati makanan, di saat menelaah pelajaran. Di saat gundah gulana Hadirkah Allah di situ?

Bila di check balik. Astaghfirullahal Adzim.. Susah sebenarnya nak merasai kehadiran Allah di sepanjang hari-hari yang kita lalui, kalau iman itu tidak ditanam sedalam-dalamnya. Bagi saya konsep ihsan inilah yang boleh membawa kepada taqwa, kerana kalaulah saya tak mampu nak menghadirkan Allah dalam setiap gerak kerja saya, bagai mana pula saya mampu untuk melaksanakan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan segala larangannya. Sunggun iman islam dan ihsan itu melahirkan ketaqwaan.

Sungguh apa yang terlahir dari hati, disertakan dengan ucapan dan amalan pasti melahirkan ketundukan jika dihadirkan Sang Pencipta di situ. Maka benih-benih taqwa pasti meresap ke dalam sanubari.

Subhanallah, sungguh indah ayat-ayatMu ya Tuhan!
^_^

last Sharing "dan kami tidak mengutus rasul-rasul sebelum mu (Muhamaad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu sebagai cobaan bagi sebahagian yang lain . Mahukan kami bersabar?? Dan Tuhanmu maha melihat''

Sweetkan Allah ni, Dia dah ingatkan kita pun yang nanti akan ada antara manusia-manusia ni yang akan menjadi cobaan bagi kita. Tapi Allah pandai je pujuk kita balik dengan bertanya

"Mahukah kamu bersabar???,"

Subhanallah Sweetnyerr!!

Sungguh Allah itu maha melihat.

Wallahu'alam

Thursday, December 3, 2009

Open Your Eyes

Bismillahirrahmanirraheem...


Wednesday, December 2, 2009

Semahal Mahar Ar Rumaisa'

Bismillahirrahmanirrahim...


Assalamualaikum wbt..insya ALLAH, kita tak pernah kan share cerita sahabiah-sahabiah. Makanya, hari ini insya ALLAH nak share satu cerita tentang seorang sahabiah..

__________________________________________________________________

Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
Aku masuk ke syurga lalu terdengar sebuah suara di hadapanku. Ternyata beliau ialah Al-Ghumaisha’ bintu Milhan”[HR Bukhari]

“ Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu kekal di dalam taman-taman dan sungai-sungai di tempat yang disenangi, di sisi Yang Maha Berkuasa” [Al-Qamar: 54-55]”

Bersama orang-orang Ansar
Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam pernah mendoakan orang-orang Ansar dengan doa baginda yang sangat istimewa;

Ya Allah, rahmatilah orang-orang Ansar dan anak orang-orang Ansar serta cucu orang-orang Ansar” [HR Bukhari dan Muslim]

Srikandi tauladan kita kali ini ialah salah seorang wanita Ansar, yang termasuk di kalangan sahabiyah yang mulia dan paling utama. Beliau menghimpunkan ilmu, kebijaksanaan, keberanian, kemurahan hati, kesucian peribadi dan keikhlasan yang tulus semata-mata bagi Allah dan RasulNya.

Jiwa wanita yang bijaksana ini telah dipenuhi dengan iman sejak pertama kali beliau mendengarnya, lalu beliau menghadirkan fenomena tersendiri yang menyaksikan kecemerlangan, kemuliaan dan kebaikan dirinya sepanjang zaman. Sahabiyah terbaik ini juga ialah ibu kepada seorang sahabat yang terbaik, yang mendapatkan kedudukan khusus di sisi Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, iaitu Anas bin Malik. Abu Nu’aim Al-Asybahany mengungkapkan jati diri wanita ini dengan berkata, “Ummu Sulaim adalah wanita yang tunduk kepada keputusan orang yang dicintainya, yang biasa membawa tombak di dalam peperangan!”

Di kesempatan ini, marilah kita susuri nasab sahabiyah yang mulia ini, yang biografinya harum semerbak, enak didengar dan menyenangkan hati. Beliaulah Ummu Sulaim bintu Milhan bin Khalid bin Zaid bin Haram An-Najariyah Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. [Siyar Alamin-Nubala, 2/304]. Semoga mujahidah yang sabar, khusyuk, mulia, patuh beragama serta berkedudukan ini menjadi tauladan buat kita semua.

Keteguhan Iman Ummu Sulaim
Sejak hari pertama keIslamannya, Ummu Sulaim telah menyajikan keteguhan peribadi yang mengagumkan dan layak untuk diteladani. Ini menunjukkan barakah dan ketajaman akalnya, disamping iman, keikhlasan dan kebenarannya. Beliau telah memeluk Islam dan ikut berbaiat di saat suaminya ketika itu (Malik bin An-Nadhar, ayah kepada Anas bin Malik) berada di luar Madinah. Iman meresap ke dasar hatinya dan kekal terpateri di sana. Beliau mencintai Islam dengan kecintaan yang sangat mendalam, sehingga kerana itu beliau tetap teguh di hadapan suaminya yang masih musyrik. Kisah menarik ini merupakan kisah yang mengangkat martabat Ummu Sulaim dan menempatkan beliau setaraf dengan para muslimin di awal dakwah Islam di kalangan kaum Ansar. Ayuh kita ikuti kisah ini.

Sejurus selepas pengislaman Ummu Sulaim, suaminya kembali seraya memarahi beliau dengan berkata, “Apakah engkau telah murtad?”. Ummu Sulaim lantas menjawab dengan tegas, “Aku tidak murtad, tetapi aku telah beriman dengan orang ini (Rasulullah)”. Tidak cukup dengan itu, beliau turut memimpin tangan anaknya, Anas dan mengisyaratkan Anas agar mengucapkan lafaz syahadatain. Anas akur. Malik, suami Ummu Sulaim semakin marah dengan tindakan isterinya sehingga beliau menengking dengan kasar, “Jangan kau rosakkan anakku!”. Tetapi dengan penuh kebijaksanaan Ummu Sulaim menjawab, “Sesungguhnya aku tidak merosakkannya, tetapi menunjukinya kepada kebenaran”. Dengan membawa kemarahan yang menggumpal, Malik bin An-Nadhar memulakan perjalanan ke Syam, tetapi dibunuh musuhnya di pertengahan perjalanan tersebut. Ketika berita kematian suaminya sampai ke pengetahuan Ummu Sulaim, beliau menerimanya dengan berlapang dada dan bertekad untuk memelihara Anas sebaik-baiknya. Beliau juga berjanji tidak akan berkahwin semula sehinggalah Anas membenarkannya berbuat demikian.

Sejak itu, perhatian beliau tertumpah kepada pendidikan anaknya. Beliau mengajarkan Anas tentang kecintaan kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam dan Islam. Setelah Baginda Rasul tiba di Madinah sebagai muhajir, Ummu Sulaim segera mendatangi baginda dengan membawa Anas yang ketika itu masih kanak-kanak dan belum mencapai usia baligh. Beliau berkata kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam:

Wahai Rasulullah, ini Unais (nama kecil Anas). Aku mendatangi engkau agar dia mengabdi kepada engkau. Maka berdoalah kepada Allah bagi dirinya” Maka, baginda bersabda, “Ya Allah, perbanyakkanlah harta dan anaknya” (Dala’ilun-Nubuwwah, 6/194-195).

Anas mendapat bimbingan dan pengasuhan di rumah Rasulullah yang kemudiannya menghantarkan beliau kepada kedudukan mulia sebagai salah seorang sahabat terkemuka.

Ummu Sulaim benar-benar mengotakan janji yang pernah diucapkan kepada anaknya. Beliau mendidik Anas dengan sebaik-baik didikan, sehingga Anas pernah berkata, “Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada ibuku kerana beliau telah mengasuhku dengan sangat baik” .

Mahar Yang Paling Indah
Ummu Sulaim juga tidak menerima lamaran-lamaran yang datang kepadanya sehinggalah Anas berusia cukup dewasa. Beliau kemudiannya dilamar oleh Abu Talhah Al-Anshary yang ketika mengajukan lamaran tersebut masih seorang musyrik. Ummu Sulaim dituntut untuk mempertimbangkan lamaran lelaki tersebut kerana Abu Talhah merupakan seorang yang berpengaruh di dalam masyarakat. Ketika Abu Talhah menemui beliau buat kali kedua untuk tujuan yang sama, Ummu Sulaim menjawab lamaran tersebut dengan berkata

Wahai Abu Talhah, lelaki seperti engkau tidak layak untuk ditolak. Tetapi engkau seorang kafir, sementara aku wanita Muslimah dan tidak mungkin bagiku untuk menikahi engkau

Apa yang perlu kulakukan untuk tujuan itu?” tanya Abu Talhah.

Hendaklah engkau menemui Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam” Jawab Ummu Sulaim.

Abu Talhah segera beranjak untuk menemui Rasulullah yang ketika itu sedang duduk di tengah-tengah para sahabat. Ketika melihat kehadiran Abu Talhah, baginda Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Abu Talhah mendatangi kalian, dan tanda-tanda keislaman tampak di antara kedua matanya”. Abu Talhah memberitahu Rasulullah apa yang dikatakan Ummu Sulaim. Akhirnya, Abu Talhah memeluk Islam di hadapan baginda dan para sahabat. Beliau juga bersetuju menikahi Ummu Sulaim dengan mahar keIslamannya. Ummu Sulaim berkata kepada anaknya, “ Wahai Anas, bangkitlah dan nikahkanlah Abu Talhah”.

Tentang kisah pernikahan yang diberkati ini, Tsabit bin Aslam Al-Banany, salah seorang Tabi’in berkata, “Kami tidak pernah mendengarkan mahar yang lebih indah dari maharnya Ummu Sulaim, iaitu Islam!” (Shifatush Shafwah, 2/66; Siyar A’lamin-Nubala’, 2/29).

Firasat Ummu Sulaim terhadap Abu Talhah ternyata benar, sehingga beliau meraih kebahagiaan kerana kebaikan, keikhlasan dan kemuliaan suaminya. Abu Talhah juga berhak mengecap kebahagiaan kerana pernikahannya dengan seorang wanita Mukminah yang bertakwa, Ummu Sulaim, yang kerana beliaulah, Abu Talhah keluar dari kegelapan syirik ke cahaya tauhid, Islam dan jihad. Allah kemudiannya memuliakan suami isteri ini dengan kelahiran seorang anak lelaki yang diberi nama Abu Umair.

Ternyata Allah Subhanahu wa Taala berkehendak untuk menguji keluarga suci ini, yang sedari hari pertamanya lagi telah dibangun dengan ketakwaan. Di sinilah Ummu Sulaim tampil dengan gambaran istimewa lagi mengagumkan dari kisah-kisah sahabayiyah sezaman beliau. Beliau menghadirkan keutamaan sehingga tindakannya ini mekar sepanjang sejarah hingga Allah Subhanahu wa Taala mempusakakan dunia dan seisinya.

Suatu hari, Umair jatuh sakit dan meninggal dunia ketika Abu Thalhah pergi ke masjid. Ummu Sulaim menerima pemergian anak kecil itu dengan jiwa yang redha dan sabar seraya berucap, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Beliau membaringkan jasad anaknya di atas tempat tidurnya dan berkata kepada ahli keluarganya yang lain,”Jangan kalian sampaikan khabar ini kepada Abu Talhah berkenaan anaknya. Biar aku saja yang menyampaikan hal ini kepadanya”.

Sekembalinya dari masjid, Abu Talhah bertanyakan keadaan Umair, “Bagaimanakah keadaan anakku?

“Dia lebih tenang dari keadaan sebelumnya” jawab Ummu Sulaim. Kemudian Ummu Sulaim menghidangkan makan malam kepada Abu Talhah dan menghiaskan dirinya secantik mungkin. Pada malam tersebut, mereka berjima’ dan setelah selesai, Ummu Sulaim mengkhabarkan kematian Umair kepada suaminya. Abu Talhah bersedih serta timbul kemarahan di hatinya. Beliau mendatangi Rasulullah dan menceritakan perlakuan isterinya. Mendengarkan kisah tersebut, Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di tengah umatku seorang wanita yang sabar seperti kesabaran wanita Bani Israel”. (As-Sirah Al-Halabiyah, 3/74)

Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada Abu Talhah, “Apakah semalam kalian telah berjima’?”. “Ya”. Jawab Abu Talhah. Rasulullah mendoakan keberkahan bagi pasangan tersebut dan doa baginda Sallallahu Alaihi wa Sallam ini dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Taala,. Ummu Sulaim melahirkan anak lelaki yang diberi nama Abdullah hasil dari perhubungan tersebut. Diriwayatkan, Abdullah bin Abu Talhah termasuk orang-orang yang soleh. Tanda itu jelas terlihat di wajahnya. Abayah bin Rafi’ berkata, “ Aku melihat anak itu di kemudian hari mempunyai tujuh anak lelaki yang kesemuanya hafal Al-Quran” (Ath-thabaqat, 8/334; Sifathush-Shafwah, 2/69; Dala’ilun-Nubuwwah, 6/199)

Apakah Yang Engkau Miliki Wahai Ummu Sulaim?
Ummu Sulaim radhiallahu anha sentiasa memberikan hadiah dan makanan kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Allah Subhanahu wa Taala juga memuliakan beliau dan memberkati pemberiannya kepada baginda Rasul. Kisah ini dituturkan sendiri oleh Anas bin Malik ketika mengkhabarkan barakah dari kebiasaan ibunya itu. Ummu Sulaim pernah mengarahkan seorang pembantunya untuk menghantarkan makanan berupa daging kambing kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Selesai menghantarkan pemberian tersebut, kantung kosong tersebut dikembalikan ke rumah Ummu Sulaim di saat beliau tiada di rumah. Sekembalinya ke rumah, Ummu Sulaim mendapati kantung tersebut masih penuh berisi. Lantas, beliau kembali kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam untuk meminta kepastian.

Ummu Sulaim berkata, ” Demi yang mengutusmu dengan kebenaran dan agama yang benar, kantung ini masih penuh berisikan makanan yang kuberikan padamu sedangkan engkau wahai Rasulullah telah menerimanya dari pembantuku”

Baginda lantas menjawab, ”Wahai Ummu Sulaim, apakah engkau hairan kerana Allah telah memberikan makanan kepadamu sebagaimana engkau telah memberikan makanan kepada RasulNya? Makanlah dan berikanlah makanan itu kepada yang lain”. Ummu Sulaim kembali ke rumahnya dan membahagikan makanan itu di dalam sebuah mangkuk besar untuk 2000 orang sehingga ia menjadi bekalan makanan untuk tempoh sebulan atau dua bulan! (Hayatus-Sahabah, 3/635)

Anas turut menceritakan bahawa ibunya sering mengirimkan talam yang berisi kurma segar kepada baginda Sallallahu Alaihi wa Sallam kerana mengetahui kesukaan Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam itu. Dalam kisah yang lain, Abu Talhah pernah memberitahu kepada Ummu Sulaim tentang keadaan Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam yang sedang menahan lapar yang teramat sangat dengan berkata, ” Aku mendengar suara Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam melemah. Aku melihat beliau merasa lapar. Maka, apakah engkau mempunyai sesuatu yang boleh diberikan kepada baginda?”. Ummu Sulaim segera mengeluarkan beberapa gumpalan adunan roti dari tepung gandum dan menyuruh anaknya, Anas untuk mengirimkannya kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi wa sallam yang sedang berada di masjid bersama dengan para sahabat. Oleh kerana ramainya para sahabat yang mengelilingi Rasulullah ketika itu, Anas merasa malu untuk menyampaikan pemberian yang sedikit itu. Menyedari kehadiran Anas, Rasulullah segera menyapanya dengan berkata, ” Adakah orang tuamu mengutusmu ke sini?”. Anas mengiyakan. Rasulullah segera bersabda kepada para sahabat untuk berangkat ke rumah Abu Talhah. Di saat itu, Abu Talhah mulai ragu kerana mereka tidak memiliki sesuatu apapun untuk dihidangkan kepada para tetamu yang ramai tetapi Ummu Sulaim mencelah, ”Percayalah, Allah dan RasulNya lebih mengetahui!

Wahai Ummu Sulaim! Apakah yang engkau miliki saat ini?” Tanya Rasulullah.

Ummu Sulaim membawakan beberapa gumpalan roti yang ingin diberikannya kepada Rasulullah sebelumnya. Baginda mendoakan barakah ke atas pemberian tersebut, maka mereka semua menikmati makanan tersebut sehingga kekenyangan, walhal bilangan para sahabat ketika itu mencecah 90 orang lelaki. Subhanallah! (Tarikhul Islam, Adz-Zahaby, 1/357; Dala’ilun-Nubuwwah,2/532; Wafa’-ul-wafa’, 3/881-882. Diriwayatkan oleh Muttafaq Alaih. Imam Malik turut meriwayatkannya di dalam Al-Muwaththa’).

Kedermawanan dan kemurahan hati Ummu Sulaim tidak berhenti setakat di situ sahaja. Ketika Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam menikahi Zainab binti Jahsy, beliaulah yang menyediakan jamuan walimatul urus tersebut dengan menghidangkan makanan kegemaran Rasulullah sendiri. Barakah dari pemberian tersebut juga (dengan izin Allah) dapat menampung bilangan para sahabat yang ramai menghadiri majlis tersebut.

Maha suci Allah di atas segala kebaikan dan keberkatan yang dikurniakan kepada hamba-hambaNya yang beriman!

Wanita Yang Memenuhi Hak dan Kebajikan
Ummu Sulaim radhiallahu anha termasuk di kalangan para sahabiyah utama yang bijaksana, memiliki pendapat yang lurus, kecerdikan dan firasat yang tinggi disamping berada pada akhlak-akhlak yang mulia serta menghimpun beberapa sifat yang baik dan suci. Lantaran keperibadiannya inilah, beliau sering mengajukan persoalan-persoalan berkaitan agama kepada Rasulullah.

Tentang sikap beliau ini, Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu anha pernah berkata, ” Sebaik-baik wanita ialah wanita-wanita Ansar. Mereka tidak merasakan malu untuk bertanya tentang masalah-masalah agama dan untuk memahaminya” (Ath-Thabaqat, 8/421).

Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam juga sering mengajarkan pelbagai masalah agama dan ibadah kepada beliau. Di antaranya seperti yang diungkapkan oleh Anas bin Malik, ”Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam mengunjungi Ummu Sulaim lalu mendirikan solat tathawu’ di rumah beliau, lalu beliau bersabda, ”Wahai Ummu Sulaim, jika engkau sudah selesai mendirikan solat wajib, maka ucapkanlah subhanallah sepuluh kali, alhamdulillah sepuluh kali dan Allahu Akbar sepuluh kali, kemudian mohonlah kepada Allah menurut apapun kehendakmu, kerana dengan demikian akan dikatakan kepadamu, ’Ya, ya,ya!’”

Dengan akhlak dan kecintaan beliau kepada Allah dan RasulNya jualah yang menghantarkan beliau kepada kedudukan yang tinggi di sisi baginda Rasul, sehingga baginda sering mengajarkan dan memberikan pengarahan secara halus dalam pelaksanaan ibadah beliau. Ibnu Sa’d menyebutkan bahawa Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertanya, ”Mengapa Ummu Sulaim tidak menunaikan haji bersama kami pada tahun ini?”

Ummu Sulaim menjawab, ”Wahai Nabi Allah, suamiku hanya memiliki dua ekor unta. Yang satu digunakannya untuk menunaikan haji dan satunya lagi dia tinggalkan untuk mengairi kebun kurmanya”

Maka baginda bersabda,” Jika tiba bulan Ramadhan, maka kerjakanlah umrah, kerana umrah pada bulan tersebut setara dengan haji di bulan Zulhijjah”. Dalam hadith lain, beliau bersabda,”Umrah pada bulan Ramadhan itu akan menggantikan hajimu bersamaku”.

Keberanian dan Jihadnya
Kita telah mengenali tokoh wanita kali ini sebagai seorang wanita yang terpandang, mulia dan terhormat, termasuk golongan wanita yang terawal menerima Islam. Kita juga telah mengenalinya sebagai isteri yang solehah, ibu yang penuh kasih sayang, ahli ibadah yang taat, dermawan dan murah hati. Lalu, bagaimana pula dengan jihadnya?

Tidak dapat diragukan bahawa beliau sering terlibat dalam pelbagai peristiwa penting, malah menyertai sejumlah wanita lain yang ikut berjihad bersama Rasulullah. Ath-Thabrany mentakhrij dari Ummu Sulaim radhiallahu anha, beliau berkata, ”Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam berperang yang disertai beberapa wanita dari kalangan Ansar, lalu kami memberikan minum orang-orang yang sakit dan mengubati orang-orang yang terluka

Diriwayatkan juga dari Anas bin Malik ra, beliau berkata, "Rasulullah Sallallahu alaihi wa Sallam pernah berperang bersama Ummu Sulaim serta beberapa wanita lain di kalangan Ansar, yang bertugas memberikan minuman dan mengubati orang-orang yang terluka.” (Ditakhrij Muslim)

Al Imam Adz-Zahaby Rahimahullah menyebutkan bahawa Ummu Sulaim radhiallahu anha ikut bersama di dalam Perang Hunain dan Uhud, dan dia termasuk wanita yang utama. (Siyar A’lamin-Nubala’, 2/304).

Muhammad bin Sirin, seorang tabi’in mulia pernah menyebutkan bahawa Ummu Sulaim menyertai Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam di Perang Uhud padahal ketika itu beliau sedang mengandungkan anaknya, Abdullah bin Abu Thalhah. Beliau membawa bersamanya sebuah tombak pendek yang diselitkan di pinggangnya. Abu Thalhah menemui Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam untuk mengkhabarkan tindakan isteri beliau. Hasilnya, Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam tersenyum mendengarkan tingkah sahabiyyah terdekat tersebut. Baginda lantas bertanya kepada Ummu Sulaim tentang kegunaan tombak pendek itu dan dijawab dengan berani oleh beliau, ”Jika ada salah seorang antara orang-orang Musyrik mendekatiku, maka aku akan menikamnya dengan tanganku sendiri!”

Inilah dia salah seorang sahabiyyah yang mendapat kemuliaan jihad di sisi barisan kaum Muslimin. Semoga Allah Subhanahu wa Taala mengurniakan balasan setimpal buat beliau.

Kerana Aku Sangat Menyayanginya!
Di antara bukti yang menunjukkan bahawa Ummu Sulaim memiliki kedudukan yang khusus dan istimewa di sisi Rasulullah boleh dinilai dari pertuturan Anas bin Malik, ”Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam tidak biasa memasuki rumah lain selain rumah Ummu Sulaim.Ketika hal ini ditanyakan kepada Baginda Rasul, Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ’Kerana aku sangat menyayanginya, saudaranya terbunuh ketika bersama aku” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Saudaranya yang dimaksudkan di sini ialah Haram bin Milhan, yang turut sama berjihad di medan Badar, Uhud, lalu gugur syahid fi sabilillah dalam Perang Bi’r Ma’unah pada tahun keempat setelah hijrah. Beliaulah yang mengucapkan kata-kata terkenal ”Demi Rabb Kaabah! Aku telah meraih keberuntungan yang besar” sejurus selepas beliau ditikam musuh dari arah belakang sehingga hujung tombak menembusi dadanya dan mata tombak terlihat dari arah hadapan tubuhnya. Semoga Allah redha kepadaNya seperti redhanya beliau kepada Tuhannya. (Siyar A’lamin-Nubala’, 2/307; Al-Ibtishar, hal. 36).

Rasulullah sangat sering mengunjungi Ummu Sulaim di rumah beliau, memberikan sesuatu dan mendoakan keluarga tersebut. Anas meriwayatkan hal ini dengan berkata,” Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam datang ke rumah kami, sementara yang ada di rumah hanya aku, ibuku, dan ibu saudaraku, lalu beliau bersabda, ’Bangunlah kalian, kerana aku akan solat bersama kalian. Para wanita solat di sebelah kanan baginda. Selesai solat, baginda mendoakan segala kebaikan dunia dan akhirat bagi kami” (Al-Ibtishar, hal. 39-40).

Anas juga pernah menuturkan, ”Jika Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam lalu tidak jauh dari tempat Ummu Sulaim, maka baginda akan menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya” (Diriwayakan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Nasaei)

Maka, cukuplah kebanggaan dan kemuliaan bagi Ummu Sulaim kerana Rasulullah sendiri telah mengkhususkan kunjungan, salam, doa dan solat di rumahnya.

Nisa’ Mubasysyarat Bil Jannah!
Sahabiyah Ummu Sulaim radhiallahu anha adalah salah seorang wanita utama yang meninggalkan jejak yang abadi di dalam sejarah Islam. Al Imam An-Nawawy Rahimahullah berkata tentang dirinya, ” Dia termasuk wanita-wanita yang utama” (Tahdzibul-Asma’, 2/363).

Beliau seorang isteri yang solehah, daie yang bijaksana dan pendidik yang utama dengan cara menyerahkan anaknya ke madrasah Nubuwwah untuk menceduk ilmu dan hikmah langsung dari sumbernya sehingga anak beliau meraih gelar dan darjat yang tinggi di sisi Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam.

Di samping itu, Ummu Sulaim radhiallahu anha juga seorang penghafal hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau meriwayatkan empat belas hadis dari baginda, dua hadis Muttafaq Alaihi, satu hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan dua hadis diriwayatkan oleh Muslim.

Ummu Sulaim radhiallahu anha juga mendapatkan khabar gembira sebagai salah seorang nisa’ mubasysyarat bil jannah (wanita yang dijamin syurga). Khabar ini disampaikan melalui Anas bin Malik radhiallahu anhu yang menuturkan dari sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, ”Aku masuk syurga lalu aku terdengar sebuah suara di hadapanku. Ternyata aku sedang berhadapan dengan Al-Ghumaisya’ bintu Milhan” [HR Bukhari]

Al-Ghumaisya’ dalam hadis di atas ialah Ummu Sulaim radiallahu anha. Sesungguhnya keberuntungan yang besar bagi diri sahabiyah utama ini atas keredhaan Allah dan kecintaan Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam terhadapnya


____________________________________________________________________

Hebat kan Ummu Sulaim neh, sapa yang tanak jadi macam Ummu Sulaim neh kan?? Suara dia di dengar di dalam syurga.
Mantapnya Ummu Sulaim sampai kan maharnya sendiri adalah ISLAM..Islam sisters..apakah ada yang lebih indah maharnya selain daripada keislaman, Antara 2 nikmat kan..nikmat islam dan iman. dan Arrumaisa memaharkan dirinya dengan islamnya Abu Thalhah... Subhanallah..

Kita pula bagaimana???
insya ALLAH jom layakkan diri untuk menggapai jannah ... ammeen~